FIKSI- Dalam rangka menumbuh kembangkan potensi, bakat dan keterampilan anak berkebutuhan khusus, Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (Ditp-PKLK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar dua kegiatan. Yaitu Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) dan Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2017.

Dua kegiatan tersebut dibuka secara bersamaan pada Jumat (28/7) di Novotel Mangga Dua Square Hotel, Jakarta. Dan dibuka langsung oleh Direktur Pembinaan PKLK, Ir. Sri Renani Pantjastuti, MPA serta didampingi oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan Museum Seni Rupa dan Keramik Kota Tua, Jakarta.

Acara ini berlangsung meriah dengan penampilan terbaik oleh anak berkebutuhan khusus. Seperti Ismail Ula, penyandang low vision yang memiliki suara emas dan kemahirannya bermain piano, penampilan tari Sim-Sim oleh Jeri Prastiti, anak penyandang tuna rungu dari SLB Negeri 1 Jakarta. Acara berlangsung semakin meriah dengan penampilan suara emas Zizi penyandang tuna netra dari SLB Negeri 1 Jakarta.

Dalam sambutannya, Direktur Pembinaan PKLK, Ir. Sri Renani Pantjastuti, MPA mengungkapkan digelarnya dua kegiatan  ini merupakan salah satu cara untuk membuktikan bahwa Direktorat PKLK telah melakukan peningkatan akses dan pemerataan mutu pendidikan.  Sehingga anak-anak berkebutuhan khusus mampu menunjukan keterampilan yang mereka miliki jika potensi mereka terus digali dan didorong oleh semua pihak, termasuk dunia pendidikan.

“Mereka anak berkebutuhan khusus sebetulnya anak berkemampuan khusus atau anak Istimewa,” tegasnya.

Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan anak berkebutuhan khusus akan menjadi generasi yang mandiri. Sehingga dimasa depan kehadirian mereka bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

“Acara ini ingin mencetak anak bangsa yang memiliki keterampilan dan mampu membuka lapangan kerja bagi yang lain,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Mulyono, guru pendamping dari provinsi Kalimantan Timur mengungkapakan bahwa melalui kegiatan ini anak-anak berketuhan khsusus mampu menunjukan kemampuannya dan keterampilannya.

“Dengan keterbatasannya mereka mampu menghasilkan karya-karya yang patut dibanggakan,” katanya.

Semantara itu Siti, guru pendamping dari provinsi Sumatera Utara mengatakan bahwa kegiatan LKSN dan FIKSI akan menjadi wahana bagi anak berketuhuan khusus untuk menumbuh kembangkan potensi dan keterampilan yang mereka miliki. Sehingga kelak mereka akan menjadi insan yang mandiri.

“Mereka harus diberi kesempatan. Karena mereka juga memilki potensi yang sama dengan anak pada umumnya,” tegasnya.