LKSN – Ajang Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) PKLK tak melulu soal kompetisi menjadi yang terbaik. Dari ajang ini para siswa dapat belajar untuk mengenal secara lebih baik mengenai keragaman di nusantara. Hal itu diungkapkan oleh guru pendamping bidang Lomba Membatik, Mohammad Abdul Kohar. Menurutnya para peserta LKSN dapat saling belajar.

“Peserta LKSN PKLK secara mental semakin terasah. Mereka bisa belajar dari provinsi lain. Bisa belajar bagaimana berkompetisi dan bersaing secara sehat,” kata Mohammad Abdul Kohar, guru pendamping provinsi DI Yogyakarta. “Dari ajang LKSN PKLK dapat menggali potensi bahwa karya batik nusantara sangat beragam.

Menurut sosok lulusan Institut Seni Indonesia ini, para peserta LKSN PKLK dapat menjadi pelopor di daerahnya masing-masing.

“Para peserta merupakan duta-duta dari tiap provinsi. Entah mereka menang atau tidak di LKSN, mereka merupakan yang terbaik di provinsinya. Mereka menjadi pelopor untuk adik-adiknya, penyemangat untuk adik-adiknya. Harapannya mereka juga menjadi pribadi yang tidak cepat puas. Terus melatih mental, bersaing secara sehat, memacu diri untuk lebih baik lagi,” ungkap Mohammad Abdul Kohar yang merupakan guru di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Bantul kala ditemui di Novotel Mangga Dua Square Hotel, Kamis (27/7).

Ada pun bagi Mohammad Abdul Kohar keterampilannya dalam membatik dapat diserap oleh para Anak Berkebutuhan Khusus dikarenakan lebih menekankan pada praktik.

“Keterampilan lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa praktik. Cukup dengan memberikan sedikit instruksi. Mereka melihat dengan contoh dari apa yang saya kerjakan,” ujar Mohammad Abdul Kohar yang membimbing siswa tunarungu untuk berlomba di event LKSN PKLK tahun 2017.